Venezuela Tuduh Amerika Serikat Lakukan Pembajakan Maritim
Terbit: 18 Desember 2025 | Waktu Baca: 2 menit | Penulis: @johan
Artikel ini disajikan oleh JAGUAR33 DAFTAR sebagai sumber informasi global terpercaya.
Tuduhan Resmi Venezuela terhadap Amerika Serikat
LINTASWAKTU33-Venezuela menuduh Amerika Serikat melakukan "pembajakan maritim" setelah menyita pengiriman minyak Venezuela di perairan internasional. Laporan tersebut disampaikan Anadolu pada Rabu (17/12).
Tuduhan itu disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri Venezuela, Yvan Gil, melalui surat resmi kepada Presiden Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (DK PBB), Samuel Žbogar.
Kronologi Penyitaan Minyak di Laut Lepas
Penahanan Awak dan Penyitaan Muatan
Venezuela menyatakan bahwa pasukan AS secara paksa menaiki kapal swasta di laut lepas, melumpuhkan sistem kapal, menculik awak, serta menyita muatan minyak secara ilegal.
Menurut pemerintah Venezuela, minyak tersebut merupakan bagian dari operasi komersial reguler yang sah dan sepenuhnya sesuai dengan hukum internasional.
Pelanggaran Hukum Internasional
Dalam suratnya, Yvan Gil menegaskan bahwa insiden tersebut bukan kejadian terpisah, melainkan bagian dari kebijakan berkelanjutan berupa pemaksaan dan agresi oleh Amerika Serikat.
Surat itu juga merujuk pada Pasal 101 Konvensi PBB tentang Hukum Laut yang mendefinisikan pembajakan, dan menyebut tindakan AS sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kebebasan navigasi dan perdagangan internasional.
Tuntutan Venezuela kepada DK PBB
- Pembebasan segera awak kapal yang ditahan
- Pengembalian minyak Venezuela yang disita
- Penghentian campur tangan terhadap perdagangan sah Venezuela
- Kecaman terbuka dari DK PBB terhadap tindakan AS
Venezuela juga meminta konfirmasi tertulis bahwa tidak ada resolusi PBB yang mengesahkan tindakan penyitaan terhadap perdagangan minyaknya.
Respons Amerika Serikat
Amerika Serikat membenarkan penyitaan tersebut dengan alasan bahwa kapal-kapal tersebut digunakan untuk mengangkut minyak yang dikenai sanksi dari Venezuela dan Iran, serta dikaitkan dengan jaringan pengiriman minyak ilegal yang membantu organisasi teroris asing.
