Bulan di Mana Dunia Lain dan Dunia Kita Bertemu
LINTASWAKTU33 - Setiap tahun pada bulan ketujuh penanggalan Imlek, khususnya pada malam tanggal 15 (bulan purnama), suasana di banyak wilayah Tiongkok dan Asia Timur berubah. Bau dupa dan kertas terbang memenuhi udara, sesajen makanan diletakkan di tepi jalan, dan orang berbicara dengan suara rendah tentang "mereka" yang kembali. Ini adalah Zhongyuan Jie (ä¸å…ƒèŠ‚), atau lebih dikenal sebagai Festival Hantu (Ghost Festival). Lebih dari sekadar tradisi horor, festival ini adalah ekspresi budaya yang kompleks dan mendalam tentang hubungan antara yang hidup dan yang mati, tentang belas kasih, dan tentang harmoni kosmis. Artikel ini akan menelusuri asal-usul legendaris, ritual inti, dan makna filosofis di balik festival yang membuka gerbang dunia arwah ini.
Asal-Usul: Pertemuan Tiga Tradisi Besar
Berita viral Festival Hantu bukanlah produk dari satu sumber saja, melainkan hasil dari pertemuan dan sinkretisme tiga tradisi besar: kepercayaan rakyat Tiongkok kuno, Taoisme, dan Buddhisme. Ini menjadikannya sangat kaya dan berlapis.
1. Akar dalam Kepercayaan Rakyat Purba:
Sejak zaman kuno, orang Tionghoa percaya pada dunia roh yang paralel dengan dunia manusia. Konsep "Gerbang Neraka Terbuka" pada bulan ketujuh sudah ada dalam kepercayaan ini. Bulan ketujuh dianggap sebagai "Bulan Hantu" (鬼月, Gui Yue), di mana arwah-arwah, terutama mereka yang tidak memiliki keturunan untuk merawatnya (å¤é‚野鬼, "hantu pengembara") atau meninggal dengan penyesalan, berkeliaran di dunia manusia. Orang hidup perlu menghormati dan menenangkan mereka agar tidak mengganggu.
2. Legenda Taoisme: Hari Pengampunan Universal
Dalam Taoisme, tanggal 15 bulan 7 dikenal sebagai "Zhongyuan Jie", yang secara harfiah berarti "Festival Pertengahan Musim Gugur". Festival ini dikaitkan dengan Diguang Dadi, salah satu dari Tiga Kaisar Surgawi dalam Taoisme, yang juga dikenal sebagai "Dewa Bumi Pertengahan". Legenda menyebutkan bahwa pada hari ini, Diguang turun ke bumi untuk mengadili dan mengampuni dosa-dosa para arwah. Konsep ini memberikan dimensi moral dan penebusan pada festival, di mana ritual tidak hanya untuk menenangkan, tetapi juga untuk membantu arwah mencapai kedamaian dan kemajuan spiritual.
3. Adaptasi Buddhisme: Festival Ullambana (盂兰盆节)
Buddhisme memberikan narasi yang paling populer dan mengharukan. Festival ini diadaptasi menjadi Ullambana, yang berasal dari kisah Maudgalyayana (Moggallana / Mulian), salah satu murid utama Buddha. Dengan kekuatan batinnya, Maudgalyayana melihat bahwa almarhum ibunya telah terlahir kembali di alam preta (hantu kelaparan), menderita kelaparan yang hebat.
Ia mencoba memberi ibunya makanan, tetapi makanan itu berubah menjadi bara api. Atas nasihat Buddha, Maudgalyayana harus mempersembahkan makanan, minuman, dan benda-benda lain kepada komunitas biksu pada hari akhir retret musim hujan (tanggal 15 bulan 7). Kekuatan karma kolektif dari persembahan dan doa para biksu ini akhirnya membebaskan ibunya dan banyak arwah lainnya dari penderitaan. Dari sinilah lahir ritual inti: persembahan kepada sangha dan upacara pembebasan bagi arwah.
SITUS SLOT GACOR TERPERCAYA DI INDONESIA
Ritual Inti: Menghormati, Memberi Makan, dan Membebaskan
Selama bulan hantu, terutama pada puncaknya di tanggal 15, serangkaian ritual yang rumit dilakukan dengan penuh khidmat:
1. Persembahan Keluarga (Jizu):
Keluarga memberikan penghormatan kepada leluhur mereka sendiri di altar rumah atau di makam. Mereka mempersembahkan makanan favorit almarhum, teh, arak, buah-buahan, serta membakar uang kertas neraka (joss paper), uang perak dan emas, dan bahkan replika barang mewah seperti rumah atau mobil kertas. Tujuannya adalah untuk memastikan nenek moyang mereka sejahtera di alam baka dan tidak kekurangan.
2. Persembahan untuk Hantu Pengembara (Shi Gu):
Ini adalah jantung dari Festival Hantu yang penuh belas kasih. Di luar rumah, di perempatan jalan, atau di tepi sungai, orang menyiapkan meja persembahan besar yang berisi makanan, dupa, dan lilin. Makanan seringkali vegetarian dan ditempatkan di tanah atau di meja rendah. Ritual ini ditujukan untuk "hantu-hantu yang kelaparan dan tidak memiliki keluarga" (å¤é‚野鬼). Dengan memberi mereka makan dan uang, orang hidup berharap dapat menenangkan roh-roh yang mungkin iri atau dendam, sehingga mereka tidak mengganggu, sekaligus menunjukkan belas kasih universal.
3. Melepaskan Lentera Sungai (Fang He Deng):
Pada malam hari, lentera kertas atau lilin kecil dinyalakan dan dihanyutkan di sungai atau danau. Lentera ini melambangkan menunjukkan jalan bagi arwah yang tersesat kembali ke dunia mereka, sekaligus membimbing mereka menuju penerangan dan kelahiran kembali yang lebih baik. Pemandangan ratusan lentera kecil yang menghanyut di air gelap merupakan momen yang sangat magis dan mengharukan.
4. Pertunjukan Opera dan Pembacaan Kitab Suci:
Di beberapa tempat, opera tradisional (wayang atau pertunjukan langsung) dipentaskan semalam suntuk. Uniknya, baris depan kursi tetap kosong—diperuntukkan bagi para penonton dari dunia arwah. Pembacaan kitab suci Taois atau Buddhis juga dilakukan untuk mentransfer jasa kebajikan kepada arwah.
Larangan dan Pantangan: Menghindari Kesialan
Selama Bulan Hantu, terutama setelah matahari terbenam, banyak pantangan dipercayai untuk menghindari menarik perhatian atau secara tidak sengaja menyinggung para arwah:
- Tidak keluar larut malam, terutama berjalan sendirian.
- Tidak berenang (takut ditarik hantu air).
- Tidak mengambil uang atau barang yang ditemukan di jalan.
- Tidak bersiul atau memanggil nama seseorang di malam hari.
- Tidak menikah atau mengadakan acara besar yang riuh.
Makna Filosofis: Lebih dari Sekadar Ketakutan
Di balik nuansa horornya, Festival Hantu mengandung nilai-nilai budaya yang dalam:
- Belas Kasih Universal (Cibei): Ritual untuk hantu pengembara mencerminkan empati bahkan kepada makhluk yang paling menderita dan terasing, mengajarkan kebaikan tanpa pamrih.
- Hubungan Kekeluargaan yang Abadi: Ritual untuk leluhur memperkuat ikatan transgenerasional, meyakinkan bahwa kematian tidak memutuskan hubungan keluarga. Bakti (xiao) tetap berlaku bahkan setelah orang tua meninggal.
- Keseimbangan dan Harmoni Sosial-Kosmik: Festival ini berfungsi sebagai "katup pengaman" spiritual untuk menyalurkan energi negatif dari arwah yang tidak damai dan mengembalikan keseimbangan antara dunia Yin (roh) dan Yang (manusia).
- Refleksi dan Introspeksi: Bulan ini mengingatkan orang hidup akan kematian, mendorong untuk hidup lebih baik, berbuat kebajikan, dan menghargai keluarga.
Sebuah Jembatan antara Dua Dunia
Festival Hantu adalah bukti nyata dari pandangan dunia Tiongkok yang tidak melihat kematian sebagai akhir yang mutlak, tetapi sebagai bagian dari siklus kosmis yang berkelanjutan. Ia adalah waktu khusus di mana belas kasih mengatasi ketakutan, di mana ingatan mengalahkan keterpisahan, dan di mana masyarakat hidup secara simbolis merawat yang telah pergi.
Dari kisah Mulian yang menyelamatkan ibunya hingga sesajen kecil di pinggir jalan bagi arwah tak dikenal, festival ini pada dasarnya adalah perayaan kemanusiaan dan hubungan. Ia mengajarkan bahwa dengan menghormati yang tak terlihat, kita menjadi lebih manusiawi di dunia yang nyata. Di tengah gemerlap kehidupan modern, api lilin dan asap dupa di Festival Hantu tetap menjadi pengingat sunyi tentang dari mana kita berasal, dan tentang tanggung jawab kita kepada mereka yang telah pergi dan mereka yang akan datang.
#jaguar33 #j33 #jaguar33alternatif #jaguar33linkalternatif #jaguar33login #jaguar33daftar #beritaviral #viral #freebet #freechip #gacor #slotgacor #slotonline #beritaterkini #beritaterupdate #trending #beritatrending #ViralHariIni #TrendingNow #terpopuler #november2025 #china #sejarah #warisanbudaya #Mitos #Legenda



