LINTASWAKTU33, New Delhi – Rekaman CCTV dari sebuah rumah sakit bersalin di India berhasil diretas dan kemudian dijual melalui platform Telegram.
Kasus ini memicu kekhawatiran serius terkait privasi dan keamanan di negara yang kini dipenuhi kamera pengawas di berbagai sudut.
Perkara tersebut terungkap awal tahun ketika polisi di Gujarat menerima laporan dari media mengenai sejumlah video yang beredar di YouTube.
Beberapa rekaman menampilkan perempuan hamil yang tengah menjalani pemeriksaan medis, bahkan ada yang memperlihatkan proses penyuntikan di area sensitif.
Video-video itu memuat tautan yang mengarahkan penonton ke kanal Telegram, tempat versi rekaman yang lebih panjang diperjualbelikan, dikutip dari BBC, Senin (17/11/2025).
Direktur rumah sakit mengatakan kepada BBC bahwa kamera dipasang untuk melindungi dokter. Namun, pihak BBC memilih tidak menyebutkan nama rumah sakit maupun kota demi menjaga identitas para perempuan dalam rekaman tersebut.
Tidak satu pun korban diketahui melaporkan kasus ini secara langsung kepada polisi.
CCTV Ada di Mana-Mana, Keamanannya Dipertanyakan
CCTV kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat India, terutama di kota-kota besar. Kamera terpasang di pusat perbelanjaan, kantor, rumah sakit, sekolah, apartemen, hingga rumah pribadi.
Meski bertujuan meningkatkan keamanan, para ahli berulang kali mengingatkan bahwa sistem tanpa standar keamanan memadai justru membuka celah peretasan.
Banyak perangkat dikelola oleh staf tanpa pelatihan teknis, sementara sejumlah produk CCTV lokal disebut memiliki kerentanan sistem yang mudah dieksploitasi.
Kasus serupa pernah terjadi pada 2018 ketika seorang pekerja teknologi di Bengaluru mengaku webcam miliknya diretas dan pelaku menuntut uang tebusan.
Pada 2023, seorang YouTuber juga menemukan CCTV rumahnya dibobol setelah video pribadinya beredar luas di internet.
Jaringan Kejahatan Siber Berskala Nasional
Penyelidikan polisi Gujarat mengungkap adanya jaringan kejahatan siber berskala besar yang diduga mencuri rekaman dari sedikitnya 50.000 CCTV di seluruh India.
Polisi menyebut jaringan ini terdiri dari individu yang tersebar di berbagai negara bagian dan menargetkan rumah sakit, sekolah, kampus, kantor perusahaan, hingga kamar tidur pribadi.
Menurut aparat, video hasil peretasan dijual dengan harga 800 hingga 2.000 rupee. Beberapa kanal Telegram bahkan menawarkan akses siaran CCTV langsung melalui sistem berlangganan.
Kasus ini diproses dengan tuduhan serius, mulai dari pelanggaran privasi perempuan, penerbitan materi cabul, voyeurisme, hingga terorisme siber.
Sejak Februari, delapan orang telah ditangkap dari berbagai negara bagian dan kini ditahan sambil menunggu proses hukum.
Sebagian terdakwa membantah tuduhan tersebut dan menyatakan tidak terlibat langsung dalam aksi peretasan.