Produk SPBU Swasta di LN Ada Etanolnya, Kok Tolak BBM Pertamina?

 


LINTASWAKTU33

🚗 BBM Pertamina dan SPBU Swasta: Masalah Etanol Bukan Soal Kandungan, Tapi Perjanjian

Kontroversi soal kerja sama antara Pertamina dan sejumlah SPBU swasta seperti BP-AKR, Shell, serta VIVO kembali mencuat. Bukan karena kualitas bahan bakarnya, tapi karena BBM yang dikirim Pertamina tidak sesuai dengan spesifikasi yang diminta.

🔍 Masalah Utama: Bukan Kandungan Etanol, Tapi Ketidaksesuaian Pesanan

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menjelaskan bahwa pihak swasta memesan base fuel — yaitu bahan bakar murni hasil olahan kilang yang belum ditambahkan zat aditif apapun.
Namun yang dikirim Pertamina justru sudah mengandung etanol, sehingga menimbulkan perbedaan spesifikasi dari perjanjian awal.

“Sama seperti kalau beli ayam goreng tanpa bumbu, tapi yang datang ayam berbumbu. Ya jelas nggak sesuai pesanan,” ujar Fabby.

Ia menegaskan bahwa masalah ini bukan soal etanolnya berbahaya atau tidak, melainkan soal ketidakpatuhan terhadap kontrak dagang.


⚙️ Apa Itu Base Fuel dan Mengapa Penting?

Base fuel merupakan bahan bakar dasar yang keluar dari kilang dengan angka RON tertentu (biasanya antara 60–85).
SPBU seperti Shell atau BP biasanya memiliki formula aditif rahasia sendiri untuk meningkatkan performa bahan bakar mereka — termasuk kemungkinan mencampur etanol sesuai kadar dan standar yang mereka tetapkan.

Dengan begitu, kalau base fuel yang dikirim sudah dicampur etanol dari awal, formula internal mereka jadi tidak bisa digunakan.


🌱 Pertamina dan Program Etanol

Pertamina sendiri sudah menjalankan program pencampuran etanol selama beberapa tahun terakhir.
Langkah ini merupakan bagian dari inisiatif pemerintah untuk mengurangi impor BBM murni dan menekan emisi karbon.

Etanol punya nilai octane number tinggi (RON 110–120), jadi kalau dicampur sekitar 3,5%, bisa meningkatkan RON bensin sebesar 3–4 poin.
Selain itu, etanol juga membuat proses pembakaran lebih sempurna dan emisi lebih bersih.

Namun Fabby mengingatkan, jika Pertamina mengimpor BBM yang sudah tercampur etanol dari luar negeri, tujuan pengurangan impor BBM fosil bisa tidak tercapai.
Karena dalam hal itu, etanolnya bukan hasil produksi dalam negeri.


🧠 Pandangan Ahli Soal Etanol

Sejumlah pakar menilai kekhawatiran soal etanol justru terlalu dilebih-lebihkan.
Guru Besar ITB Tri Yus Widjajanto menegaskan bahwa kadar etanol 3,5% aman dan sesuai standar internasional.

“Penurunan energi hanya sekitar 1%. Itu tidak terasa dalam performa mesin maupun konsumsi bahan bakar,” ujarnya.

Ia juga menambahkan, banyak negara sudah menggunakan etanol di BBM mereka:

  • Amerika Serikat: 10% etanol (E10)

  • Brasil: hingga 85% etanol (E85)

  • Australia & Inggris: 5–10% etanol di produk Shell dan BP

Dengan contoh itu, etanol justru membuat BBM lebih ramah lingkungan dan efisien.


🌍 Fokus Sebenarnya: Standar Emisi & Mutu BBM

Fabby menilai, perdebatan soal etanol mestinya tidak mengalihkan fokus dari hal utama:
semua BBM yang beredar di Indonesia harus memenuhi standar Euro 4, yaitu:

  • RON di atas 95

  • Kandungan sulfur rendah

  • Emisi partikel lebih bersih

Selama syarat ini terpenuhi dan produksi dilakukan sesuai standar, etanol tidak akan menyebabkan karat atau merusak mesin.


🤝 Pertamina & SPBU Swasta Tetap Lanjutkan Kerja Sama

PT Pertamina Patra Niaga memastikan kerja sama impor BBM dengan SPBU swasta seperti Vivo, BP-AKR, dan Shell tetap berlanjut.
Mereka kini sedang membahas ulang dokumen kerja sama yang mencakup:

  • Spesifikasi produk

  • Tata kelola (Good Corporate Governance)

  • Syarat dan ketentuan umum

  • Proses pengadaan lewat sistem lelang

Pihak Shell Indonesia pun menyatakan bahwa diskusi dengan Pertamina masih berlangsung dalam skema business-to-business (B2B), dengan fokus memastikan pasokan base fuel sesuai standar bahan bakar premium mereka.


🔧 Kesimpulan

Masalah BBM Pertamina dan SPBU swasta bukan karena etanolnya berbahaya, melainkan karena BBM yang dikirim tidak sesuai dengan pesanan awal.
Etanol justru bisa meningkatkan mutu bahan bakar dan mengurangi emisi, asal penggunaannya sesuai takaran dan standar internasional.

Intinya, yang perlu dijaga bukan etanolnya — tapi transparansi, kualitas bahan bakar, dan kepatuhan terhadap kontrak dagang.



Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama