Waktu Baca : 3 MENIT
Penulis : @Lukas
LINTASWAKTU33 - Jakarta Perjalanan Erick Estrada sebagai aktor ternyata tidak selalu berjalan mulus. Sebelum dikenal luas seperti sekarang, pria asal Solo tersebut harus melewati berbagai pengalaman sulit saat membangun karier di industri hiburan.
Kenangan mengenai masa perjuangan itu kembali muncul ketika Erick berbicara mengenai film Ketok Mejik. Ia bahkan terlihat emosional saat mengenang sosok sutradara Yogi S. Calam yang menurutnya pernah memberikan pertolongan di tengah kondisi sulit yang dialaminya pada awal karier.
Erick mengaku pernah merasakan bagaimana seorang aktor yang belum memiliki nama harus menghadapi pandangan sebelah mata dari orang-orang di lingkungan produksi. Menurutnya, hal tersebut bukan semata-mata karena orang lain berniat merendahkan, tetapi karena saat itu dirinya memang belum memiliki posisi penting dalam sebuah produksi.
"Saya emosional banget. Jadi... Saya merasakan di mana seorang aktor yang dulunya bukan siapa-siapa... dipandang sebelah mata sama seorang crew film. Karena crew film tuh bukannya apa-apa, bukannya jahat, nggak. Karena di situ saya tidak punya porsi," ujar Erick Estrada di kawasan Epicentrum, Jakarta Selatan, Minggu (9/8/2026).
Kesulitan yang dihadapi Erick kala itu bahkan menyangkut kebutuhan paling dasar. Kondisi ekonomi yang terbatas membuatnya harus mencari berbagai cara agar tetap bisa bertahan selama menjalani proses syuting.
Salah satu pengalaman yang paling membekas adalah ketika ia tidak memperoleh tempat untuk menginap selama berada di Yogyakarta. Erick mengaku sempat tidur di masjid karena tidak memiliki kamar untuk beristirahat.
Dalam kondisi tersebut, ia bahkan terpaksa menjual kalung milik istrinya demi mendapatkan tempat tinggal sementara selama beberapa hari. Namun, di tengah keadaan yang serba terbatas, Yogi S. Calam datang memberikan bantuan kepadanya.
"Tapi Yogi... dalam seminggu... saya tidur di masjid, saya tidak dapat kamar... Saya harus menjual kalung istri saya untuk tidur beberapa hari, itu waktu itu syuting di Jogja. Yogi menjadi seorang sutradara, bangunin saya, 'Ayo tidur di kamar saya'," tuturnya.
Pengalaman pahit tersebut membuat Erick memiliki ikatan emosional yang kuat dengan film yang tengah dikerjakannya. Baginya, karya tersebut bukan sekadar proyek akting, melainkan turut mengingatkan dirinya pada perjalanan panjang yang pernah dilalui untuk mendapatkan tempat di industri perfilman.
Erick menyadari berbagai kesulitan di masa lalu menjadi bagian penting dalam proses pembentukan dirinya sebagai seorang aktor. Perjuangan tersebut pula yang membuatnya semakin menghargai orang-orang yang pernah memberikan dukungan ketika dirinya masih berada di titik awal.
"Banget-banget! Makanya saya... melihat apa... film Yogi S. Calam ini... emosi saya tuh jadi... Apalagi nanti guru-guru saya ada di sini. Ini perjuangan anak didiknya yang bukan siapa-siapa," ungkap Erick .
Kini, setelah melewati perjalanan panjang, Erick dapat melihat kembali masa-masa tersebut dengan perspektif berbeda. Pengalaman hidup yang penuh keterbatasan justru menjadi bagian dari cerita yang membentuk perjalanan kariernya hingga berada di posisi seperti sekarang.
