Dipublikasikan oleh HendraGibson •

Ketegangan antara Thailand dan Kamboja belum sepenuhnya reda. Jika sebelumnya sorotan publik tertuju pada insiden di perbatasan darat serta isu sengketa wilayah historis, kini dinamika konflik justru semakin terasa di ruang digital. Media sosial berubah menjadi arena baru yang memperlihatkan bagaimana rivalitas lama menemukan bentuk modernnya: perang opini, perang tagar, dan perang narasi.
Di tengah situasi kawasan yang relatif terkendali secara militer, suhu percakapan di dunia maya justru meningkat. Ribuan unggahan, video, dan komentar bermunculan setiap hari, memuat tudingan, klaim sejarah, hingga seruan nasionalisme dari kedua belah pihak.
Dari Perbatasan Fisik ke Perbatasan Digital
Isu sensitif di sekitar kawasan perbatasan—terutama yang berkaitan dengan situs warisan budaya—kembali memicu perdebatan. Nama Preah Vihear kembali disebut-sebut dalam berbagai diskusi daring, meskipun status hukumnya telah diputuskan oleh Mahkamah Internasional beberapa tahun lalu.
Tak hanya itu, kompleks megah Angkor Wat juga ikut terseret dalam pusaran perdebatan, walaupun lokasinya berada jauh di dalam wilayah Kamboja. Narasi yang berkembang di media sosial sering kali tidak utuh dan minim konteks sejarah, sehingga memicu kesalahpahaman yang semakin meluas.
Jika di masa lalu ketegangan memuncak melalui pengerahan pasukan di perbatasan, kini mobilisasi opini publik dilakukan melalui algoritma platform digital. Sebuah unggahan viral dapat memicu ribuan reaksi dalam hitungan jam, menciptakan efek bola salju yang sulit dikendalikan.
Nasionalisme Digital dan Algoritma
Fenomena ini kerap disebut sebagai nasionalisme digital atau cyber nationalism. Warganet dari kedua negara berlomba mempertahankan identitas nasional mereka di ruang publik daring. Tagar bernada patriotik, video sejarah versi masing-masing, hingga arsip lama kembali diangkat dan diperdebatkan.
Platform seperti Facebook, TikTok, dan X mempercepat penyebaran sentimen ini. Algoritma cenderung mempromosikan konten yang memancing interaksi tinggi, dan konten kontroversial sering kali mendapat perhatian terbesar. Akibatnya, percakapan yang awalnya bersifat informatif berubah menjadi emosional dan konfrontatif.
Bagi pembaca yang ingin mendapatkan informasi digital terpercaya dan peluang hiburan modern berbasis teknologi, Anda juga bisa mengunjungi Mustang303 original yang menghadirkan layanan inovatif dan pengalaman online terbaik.
Dampak terhadap Stabilitas dan Opini Publik
Pengamat komunikasi digital di Asia Tenggara menilai konflik naratif seperti ini berpotensi lebih berbahaya dalam jangka panjang dibanding ketegangan diplomatik formal. Sebab, konflik digital membentuk opini publik generasi muda yang belum tentu memahami kompleksitas sejarah kawasan.
Pemerintah di Bangkok dan Phnom Penh disebut telah meningkatkan pemantauan terhadap penyebaran hoaks, ujaran kebencian, serta konten provokatif. Namun, tantangan terbesar tetap pada dinamika media sosial yang bergerak jauh lebih cepat daripada respons resmi pemerintah.
Dampak terhadap Pariwisata dan Ekonomi
Ketegangan di dunia maya turut memengaruhi persepsi internasional. Thailand dan Kamboja sama-sama bergantung pada sektor pariwisata sebagai penopang ekonomi. Citra kawasan yang stabil sangat penting bagi arus wisatawan asing.
Pelaku industri perjalanan di Siem Reap mengaku menerima pertanyaan dari wisatawan mengenai kondisi keamanan, meski situasi di lapangan relatif kondusif. Hal serupa juga dirasakan di kota-kota perbatasan Thailand yang mengandalkan perdagangan lintas negara.
Di era digital, persepsi sering kali sama pentingnya dengan realitas. Informasi yang viral dapat membentuk citra kawasan dalam waktu singkat.
Akar Sejarah yang Sensitif
Sengketa wilayah dan interpretasi sejarah antara Thailand dan Kamboja telah berlangsung puluhan tahun. Putusan hukum internasional memang memberikan kepastian, tetapi sentimen emosional di tingkat masyarakat tidak serta-merta hilang.
Sejarah dan identitas budaya merupakan isu sensitif yang mudah membangkitkan emosi kolektif. Ketika dikemas dalam format video singkat atau meme, kompleksitas sejarah sering direduksi menjadi narasi hitam-putih.
Para analis menyarankan peningkatan kerja sama bilateral di bidang pendidikan sejarah, dialog antarbudaya, serta kampanye literasi media. Upaya ini dinilai penting agar generasi muda tidak mewarisi konflik emosional yang sama.
Perdamaian di Era Modern
Meski perdebatan di dunia maya berlangsung panas, kedua negara masih memiliki kepentingan besar untuk menjaga stabilitas kawasan Asia Tenggara. Hubungan ekonomi, perdagangan, dan kerja sama regional tetap menjadi prioritas.
“Pertempuran” di ruang digital menjadi refleksi bahwa perdamaian modern bukan hanya tentang ketiadaan senjata, tetapi juga tentang pengelolaan opini publik dan emosi kolektif. Thailand dan Kamboja mungkin tidak sedang berperang secara fisik, namun di dunia maya, narasi dan identitas terus dipertarungkan.