El Mencho Tumbang: Akhir Petualangan Mantan Polisi yang Jadi Bos Kartel Paling Ditakuti di Meksiko
LINTASWAKTU33 - Dia adalah buruan paling berharga Meksiko, dengan hadiah 15 juta dolar AS di kepalanya. Nemesio Oseguera Cervantes, atau "El Mencho", memimpin Jalisco New Generation Cartel (CJNG) menjadi organisasi kriminal paling kuat dan brutal, menyaingi bahkan melampaui kekejaman pendahulunya, Kartel Sinaloa. Namun pada 22 Februari 2026, petualangan mantan polisi yang menjadi raja narkoba ini berakhir tragis. Dalam sebuah operasi militer gabungan yang dramatis di kota Tapalpa, Jalisco, gempuran pasukan khusus Meksiko dengan dukungan intelijen Amerika Serikat menghentikan langkahnya untuk selamanya. Kematiannya tidak hanya mengakhiri era kekuasaannya, tapi juga memicu gelombang kekerasan yang melumpuhkan beberapa negara bagian dan membuat ribuan turis asing terjebak.
Awal Mula: Dari Polisi Menjadi Pemburu Bayaran
Berita viral Nemesio Oseguera Cervantes lahir pada 17 Juli 1966 di desa kecil Naranjo de Chila, Michoacán. Masa kecilnya jauh dari gemerlap kekuasaan. Seperti banyak pemuda pedesaan Meksiko, ia bermimpi tentang kehidupan yang lebih baik di Amerika Serikat. Di usia 21 tahun, ia nekat berimigrasi secara ilegal ke California, bekerja sebagai buruh tani di lahan-lahan pertanian. Namun mimpinya kandas ketika ia ditangkap dan dideportasi karena kasus kepemilikan narkoba.
Kembali ke Meksiko dengan status sebagai kriminal, El Mencho memilih jalan yang ironis: ia bergabung dengan kepolisian. Pada awal 1990-an, ia bertugas di unit polisi yudisial di Jalisco. Di sinilah ia belajar seni "mematikan" yang akan membawanya ke puncak kekuasaan kriminal. Sebagai polisi, ia tidak hanya memahami taktik penegakan hukum, tapi juga membangun jaringan dengan para kriminal dan pejabat korup. Namun gaji polisi yang kecil tidak pernah bisa memuaskan ambisinya. Dalam waktu singkat, ia keluar dari kepolisian dan bergabung dengan Kartel Milenio sebagai pembunuh bayaran.
Kariernya di dunia kriminal meroket. Ia dikenal sebagai eksekutor yang kejam namun cerdas, selalu selangkah lebih maju dari lawan dan aparat. Ketika Kartel Milenio mulai terpecah, El Mencho melihat peluang. Bersama sekutunya, ia mendirikan faksi baru pada 2010 yang kelak dikenal sebagai Kartel Jalisco Generasi Baru (CJNG). Dengan basis kekuatan di Guadalajara, ia mulai membangun mesin perang narkoba yang tak tertandingi.
SITUS SLOT GACOR TERPERCAYA DI INDONESIA
Membangun Imperium: Dari Narkoba hingga Drone Pembunuh
Di bawah komando El Mencho, CJNG tumbuh menjadi monster berkepala banyak. Tidak seperti kartel tradisional yang hanya mengandalkan penyelundupan narkoba, El Mencho mendiversifikasi sumber pendapatan dengan cara yang mengerikan. Kartelnya terlibat dalam pencurian bahan bakar (huachicoleo), pemerasan bisnis lokal, penyelundupan manusia, hingga penambangan ilegal. Namun sumber kekayaan utamanya tetaplah narkoba—terutama metamfetamin dan fentanyl yang mematikan.
El Mencho merevolusi cara kartel beroperasi. Ia membangun sayap bersenjata yang disebut "Los Mata Zetas" (Pembunuh Zetas) yang kemudian menjadi model bagi seluruh organisasi. Pasukan ini tidak hanya terlatih dalam taktik gerilya, tetapi juga menggunakan teknologi modern—termasuk drone yang dimodifikasi untuk menjatuhkan bom rakitan. Pada 2015, CJNG menjadi kartel pertama yang menggunakan drone sebagai senjata serangan, menargetkan musuh dan aparat keamanan dari udara.
Kekejamannya menjadi legenda hitam. Kartel ini dikenal karena praktik "desaparecidos"—menghilangkan lawan secara paksa—dan memajang mayat di jembatan-jembatan sebagai pesan teror. Namun di balik kekejaman itu, El Mencho membangun jaringan yang sangat terstruktur, dengan sel-sel otonom yang tersebar di 28 dari 32 negara bagian Meksiko dan kehadiran di lima benua. DEA menyebut CJNG sebagai "salah satu ancaman kriminal paling serius" terhadap keamanan nasional AS.
Perburuan Global: Hadiah 15 Juta Dolar dan Gelar Teroris
Selama bertahun-tahun, El Mencho bermain petak umpet dengan aparat. Ia berpindah-pindah lokasi secara konstan, jarang menggunakan telepon, dan hanya mempercayai lingkaran dalam yang terdiri dari anggota keluarga. Pemerintah Meksiko menawarkan hadiah 30 juta peso (sekitar 1,7 juta dolar AS) untuk informasinya. Namun hadiah yang benar-benar mencengangkan datang dari Amerika Serikat: 15 juta dolar AS—salah satu hadiah tertinggi yang pernah ditawarkan untuk seorang bos narkoba.
Pada 2022, Departemen Kehakiman AS secara resmi mendakwa El Mencho atas "memimpin upaya memproduksi dan mendistribusikan fentanyl untuk diimpor ke AS". Setahun kemudian, pada 2025, pemerintah AS mengambil langkah dramatis: menetapkan CJNG sebagai Organisasi Teroris Global Spesial (Specially Designated Global Terrorist), sebuah status yang biasanya diperuntukkan bagi kelompok jihad seperti ISIS atau Al-Qaeda. Langkah ini membuka jalan bagi tindakan militer AS di luar batas-batas normal perang melawan narkoba.
Operasi Tapalpa: Malam Panas yang Mengubah Sejarah
Sabtu malam, 22 Februari 2026, menjadi malam yang menentukan. Pasukan Khusus Meksiko (Fuerzas Especiales) melancarkan operasi di kota pegunungan Tapalpa, sekitar 120 kilometer selatan Guadalajara. Berdasarkan intelijen yang diberikan oleh Gugus Tugas Gabungan Antarinstansi-Kontra Kartel (JIATF—Cartel) yang baru dibentuk AS, mereka mengetahui keberadaan El Mencho di sebuah properti terpencil.
Operasi berlangsung singkat namun sengit. Anak buah El Mencho memberikan perlawanan mati-matian. Dalam baku tembak, empat anggota kartel tewas di tempat, sementara tiga personel militer Meksiko terluka dan harus dievakuasi ke rumah sakit di Mexico City. El Mencho sendiri tertembak dan mengalami luka parah. Ia bersama dua anak buahnya yang juga terluka diterbangkan dengan helikopter menuju ibu kota. Namun di tengah perjalanan, nyawa mantan polisi yang menjadi raja narkoba itu tak tertolong. Ia dinyatakan meninggal dalam penerbangan.
Kabar kematiannya segera menyebar, memicu reaksi berantai yang mengerikan.
Malam Teror: Ketika Kartel Membakar Kota
Kematian pemimpin tertinggi tidak membuat CJNG lumpuh—justru sebaliknya. Organisasi ini menunjukkan kekuatannya dengan gelombang kekerasan terkoordinasi yang melanda sedikitnya delapan negara bagian, termasuk Jalisco, Michoacán, Guanajuato, dan Colima.
Di Puerto Vallarta, resor tepi pantai yang populer di kalangan turis AS, asap hitam membubung dari berbagai titik. Para anggota kartel membakar bus-bus umum, truk, dan SPBU, menghalangi jalan-jalan utama. Video-video yang beredar di media sosial menunjukkan kepanikan di bandara internasional Guadalajara: para pelancong berlarian mencari perlindungan, sementara di landasan pacu, asap dari kebakaran di luar bandara terlihat jelas.
Maskapai penerbangan besar—Delta Air Lines, Alaska Airlines, American Airlines, United Airlines, dan Air Canada—membatalkan semua penerbangan ke Puerto Vallarta dan Guadalajara. Ribuan turis asing terjebak tanpa kepastian kapan bisa pulang. Kementerian Luar Negeri AS mengeluarkan peringatan darurat: warga Amerika di Jalisco, Tamaulipas, dan beberapa wilayah Michoacan serta Guerrero diminta "mencari perlindungan dan tetap tinggal di kediaman atau hotel" sampai pemberitahuan lebih lanjut.
Gubernur Jalisco, Pablo Lemus Navarro, mengumumkan status "kode merah" dan membatalkan semua transportasi umum. Sekolah-sekolah di berbagai negara bagian menutup pintu untuk hari Senin. Meksiko, yang hanya beberapa bulan lagi akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026, tiba-tiba berubah menjadi zona perang.
Reaksi Dunia: Antara Pujian dan Kekhawatiran
Di tengah kekacauan, reaksi resmi berdatangan. Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum memuji operasi tersebut, menegaskan bahwa pemerintah bekerja "setiap hari untuk perdamaian, keamanan, keadilan, dan kesejahteraan Meksiko". Ia juga menekankan bahwa kerja sama dengan AS adalah bentuk koordinasi yang menghormati kedaulatan Meksiko—sebuah pernyataan yang ditujukan untuk meredam kritik domestik tentang campur tangan AS.
Wakil Menteri Luar Negeri AS Christopher Landau, yang pernah menjadi duta besar untuk Meksiko, menyebut kematian El Mencho sebagai "perkembangan besar bagi Meksiko, AS, Amerika Latin, dan dunia". Namun ia juga menyatakan "kesedihan dan keprihatinan" menyaksikan kekacauan yang terjadi.
Yang menarik, operasi ini menandai peran baru militer AS di Meksiko. Sejak Januari 2026, JIATF-Counter Cartel telah bekerja sama dengan militer Meksiko di bawah Komando Utara AS. Seorang pejabat pertahanan AS menegaskan: "Ini adalah operasi militer Meksiko, jadi keberhasilannya adalah milik mereka." Namun peran intelijen dan dukungan teknis AS tidak dapat disembunyikan.
Warisan Darah: Apa yang Tersisa dari El Mencho?
Dengan kematian El Mencho, pertanyaan besar muncul: apa yang akan terjadi pada CJNG? Sejarah menunjukkan bahwa menangkap atau membunuh bos kartel sering kali memicu fragmentasi dan pertumpahan darah internal. Ketika "El Chapo" Guzman ditangkap, Kartel Sinaloa terpecah menjadi faksi-faksi yang saling bertikai. Hal yang sama mungkin terjadi pada CJNG.
Carlos Olivo, mantan agen khusus DEA yang kini menjadi pakar CJNG, memprediksi masa depan kelam: "Pasti akan ada pertempuran antara berbagai faksi, dan getaran kekerasan ini bisa berlangsung bertahun-tahun." Organisasi yang dibangun El Mencho selama 16 tahun mungkin akan hancur dalam hitungan bulan—atau justru melahirkan monster baru yang lebih kejam.
Yang jelas, kematian El Mencho adalah pukulan telak bagi CJNG, namun bukan akhir dari perang melawan narkoba. Jaringan produksi fentanyl yang ia bangun tidak akan mati bersamanya. Selama permintaan tetap tinggi di AS, selama kemiskinan dan korupsi masih merajalela di Meksiko, akan selalu ada pengganti yang siap merebut tahta yang kosong.
Namun untuk saat ini, Meksiko dan AS bisa merayakan kemenangan langka. Pria yang pernah menjadi polisi lalu menjadi pemburu, yang membangun kerajaan kriminal dari nol, yang kepalanya dihargai 15 juta dolar, akhirnya menemui ajalnya di tangan aparat yang dulu pernah menjadi rekannya. Nemesio "El Mencho" Oseguera Cervantes telah pergi—meninggalkan jejak darah, api, dan pertanyaan besar tentang masa depan negaranya.



