Alexander Fleming dan Penisilin: Kesalahan Paling Beruntung dalam Sejarah Kedokteran


Alexander Fleming: Ilmuwan Lalai yang Secara Tidak Sengaja Menemukan Antibiotik Pertama

LINTASWAKTU33 - Pernahkah Anda lupa mencuci piring kotor lalu menemukan sesuatu yang mengubah dunia? Itulah yang dialami Alexander Fleming, seorang ilmuwan Skotlandia yang kebiasaan "berantakan"-nya di laboratorium justru membawa pada penemuan paling revolusioner abad ke-20. Berkat jamur yang tumbuh di cawan petri yang ia tinggalkan begitu saja saat liburan, umat manusia memasuki era antibiotik. Sebelum penisilin, infeksi kecil seperti luka tergores atau radang tenggorokan bisa berakibat fatal. Operasi sederhana pun menjadi pertaruhan nyawa. Fleming mengubah semua itu, meskipun butuh waktu lebih dari satu dekade sebelum dunia menyadari betapa besar penemuannya.

Masa Kecil di Ladang Skotlandia

Berita viral Alexander Fleming lahir pada 6 Agustus 1881 di Lochfield, Ayrshire, Skotlandia. Ia adalah anak ketujuh dari delapan bersaudara dalam keluarga petani. Ayahnya, Hugh Fleming, meninggal ketika Alexander baru berusia tujuh tahun, meninggalkan keluarganya dalam keterbatasan ekonomi. Namun masa kecil di pedesaan justru membentuk kebiasaan observasinya yang tajam. Ia menghabiskan waktu mengamati alam, memperhatikan detail-detail kecil yang luput dari perhatian orang lain—kemampuan yang kelak menjadi kunci penemuannya.

Fleming memulai pendidikan di sekolah desa setempat, lalu melanjutkan ke Kilmarnock Academy. Di usia 13 tahun, ia merantau ke London untuk tinggal bersama kakak tirinya, Thomas, yang bekerja sebagai dokter mata. Selama beberapa tahun, ia bekerja sebagai pegawai kantor pelayaran. Namun ketika mewarisi sejumlah uang kecil dari pamannya, Thomas mendorongnya untuk memilih pendidikan yang lebih tinggi.

Memilih Jalan yang Tak Terduga

Tahun 1901, Fleming mendaftar di Sekolah Kedokteran Rumah Sakit St Mary's, London. Awalnya ia ingin menjadi ahli bedah. Namun saat mencari klub olahraga yang cocok, ia bergabung dengan tim menembak St Mary's. Pelatih tim itu kebetulan ingin mempertahankan Fleming di tim dan menyarankannya untuk bergabung dengan departemen riset setelah lulus—di sanalah ia mulai bekerja di laboratorium Almroth Wright, seorang pelopor imunologi dan vaksinasi.

Di bawah bimbingan Wright, Fleming belajar tentang sistem kekebalan tubuh dan bagaimana sel darah putih melawan infeksi. Ia menjadi ahli dalam bidang bakterologi dan mengembangkan reputasi sebagai peneliti yang cermat, meskipun laboratoriumnya terkenal berantakan. Fleming lulus dengan gelar dokter pada 1906 dan terus bekerja di St Mary's sepanjang karirnya.

SITUS SLOT GACOR TERPERCAYA DI INDONESIA

Perang Dunia I dan Trauma Infeksi

Saat Perang Dunia I pecah, Fleming bertugas di rumah sakit lapangan di Prancis. Di sinilah ia menyaksikan kengerian yang tak terlupakan: ribuan tentara teks tidak akibat luka tembak langsung, melainkan karena infeksi yang membusukkan luka mereka. Antiseptik yang ada saat itu justru lebih banyak membunuh sel darah putih daripada membunuh bakteri. Fleming menulis penelitian penting yang menunjukkan bahwa antiseptik lebih berbahaya daripada bermanfaat di luka dalam. Pengalaman perang ini menggerakkannya untuk mencari cara membunuh bakteri tanpa merusak sel tubuh pasien.

Cawan Petri yang Terlupakan

Setelah perang usai, Fleming kembali ke laboratorium St Mary's. Ia terus meneliti bakteri, terutama stafilokokus, penyebab berbagai infeksi. Fleming dikenal sebagai peneliti yang cerdas namun tidak terlalu rapi. Meja kerjanya selalu penuh tumpukan cawan petri bekas penelitian.

Pada September 1928, Fleming hendak berlibur bersama keluarganya. Seperti biasa, ia meninggalkan tumpukan cawan petri di meja laboratorium tanpa membersihkannya. Saat kembali sebulan kemudian, ia mulai memeriksa cawan-cawan itu satu per satu. Di sebuah cawan yang pernah ditanami bakteri stafilokokus, ia melihat sesuatu yang aneh: jamur berwarna hijau keabu-abuan tumbuh di permukaannya, dan di sekitar jamur itu, koloni bakteri tampak transparan—seperti meleleh atau hancur.

Fleming tidak membuang cawan itu. Alih-alih menganggapnya sebagai kontaminasi biasa, ia justru melihat peluang. "Itu menarik," katanya pada asistennya. Ia kemudian mengidentifikasi jamur tersebut sebagai Penicillium notatum dan mulai meneliti zat yang dihasilkannya, yang ia beri nama penisilin.

Eksperimen Awal dan Kesulitan

Fleming menemukan bahwa kaldu tempat jamur itu tumbuh memiliki kemampuan membunuh berbagai bakteri berbahaya, termasuk streptokokus, meningokokus, dan basil difteri. Yang lebih penting, zat ini tidak beracun bagi sel darah putih atau kelinci percobaan. Ia mempublikasikan penemuannya pada 1929 di British Journal of Experimental Pathology.

Namun Fleming menghadapi masalah besar: ia bukanlah ahli kimia. Ia tidak mampu memurnikan penisilin dalam jumlah cukup untuk uji klinis. Ekstrak mentahnya cepat kehilangan kekuatan dan sulit diproduksi massal. Setelah beberapa tahun mencoba, Fleming akhirnya meninggalkan penisilin dan beralih ke penelitian lain. Ia tetap menyimpan jamur aslinya dan sesekali mengirimkannya ke laboratorium lain yang mungkin tertarik.

Dehidrasi Dua Dekade

Selama lebih dari sepuluh tahun, penisilin hanya menjadi catatan kaki dalam literatur ilmiah. Beberapa peneliti mencoba melanjutkan pekerjaan Fleming, namun semua terhenti karena kesulitan teknis. Fleming sendiri mulai ragu apakah penisilin akan pernah berguna secara praktis.

Semuanya berubah saat Perang Dunia II pecah. Kebutuhan mendesak akan obat infeksi luka perang memicu pencarian besar-besaran. Di Oxford, tim peneliti yang dipimpin Howard Florey (ahli patologi Australia) dan Ernst Chain (ahli biokimia Yahudi-Jerman) menemukan kembali publikasi Fleming dan memutuskan untuk meneliti penisilin secara serius.

Florey dan Chain berhasil mengembangkan metode pemurnian yang memungkinkan produksi penisilin dalam jumlah cukup untuk uji pada manusia. Uji coba pertama pada 1941 berhasil menyelamatkan seorang polisi yang sekarat akibat infeksi. Namun produksi massal masih menjadi tantangan hingga Amerika Serikat bergabung dalam perang dan industri farmasi Amerika mulai memproduksi penisilin dalam skala besar menggunakan teknik fermentasi rendaman.

Pengakuan Nobel dan Ketenaran di Usia Senja

Tahun 1945, Fleming, Florey, dan Chain bersama-sama menerima Hadiah Nobel Fisiologi atau Kedokteran. Dalam pidato Nobelnya, Fleming dengan rendah hati menyatakan bahwa penisilin bukanlah penemuannya sendiri—ia hanya menemukan jamur yang kebetulan menghasilkan zat itu, sementara Florey dan Chain-lah yang membuatnya berguna bagi umat manusia.

Fleming menjadi selebriti dunia. Ia diundang ke mana-mana, bertemu para pemimpin negara, dan menerima puluhan penghargaan. Namun ia tetap menjadi pria sederhana yang lebih nyaman di laboratorium daripada di panggung penghargaan. Ketika seorang jurnalis bertanya apa rahasia keberhasilannya, Fleming menjawab: "Saya tidak menemukan penisilin. Alam yang membuatnya. Saya hanya menemukannya secara tidak sengaja."

Di tahun-tahun terakhirnya, Fleming terus bekerja di St Mary's. Ia menikah dua kali—pertama dengan Sarah Marion McElroy yang meninggal tahun 1949, lalu dengan Dr. Amalia Koutsouri-Vourekas, seorang ahli bakteriologi Yunani yang pernah menjadi koleganya.

Alexander Fleming meninggal karena serangan jantung pada 11 Maret 1955 di rumahnya di London. Ia dimakamkan di Katedral St. Paul, sebuah penghormatan langka bagi seorang ilmuwan.

Warisan yang Tak Terukur

Penemuan penisilin membuka era antibiotik yang mengubah dunia. Sebelum penisilin, infeksi bakteri adalah pembunuh nomor satu manusia. Pneumonia, tuberkulosis, meningitis, sepsis—semua adalah vonis mati. Setelah penisilin, jutaan nyawa terselamatkan. Operasi besar menjadi lebih aman, kemoterapi kanker menjadi mungkin, dan usia harapan hidup manusia melonjak drastis.

Fleming sendiri selalu mengingatkan tentang bahaya resistensi antibiotik. Dalam pidato Nobelnya, ia memperingatkan bahwa penggunaan penisilin yang tidak tepat bisa memicu bakteri menjadi kebal. Peringatannya terbukti visioner: hari ini resistensi antimikroba menjadi salah satu ancaman kesehatan global terbesar.

Namun mungkin pelajaran terbesar dari kisah Fleming adalah tentang keterbukaan pikiran. Ia bisa saja mengumpat melihat cawan petrinya terkontaminasi jamur, lalu mencucinya dan melupakannya. Namun ia memilih bertanya: "Mengapa bakteri di sekitar jamur ini mati?" Rasa ingin tahu itu, ditambah dengan kebiasaan mengamati yang dipupuk sejak kecil di ladang Skotlandia, mengubah jalannya sejarah.

Setiap kali Anda meminum antibiotik untuk menyembuhkan infeksi, ingatlah pria pemalu yang meninggalkan cawan kotor di meja laboratoriumnya lalu memilih untuk tidak mencucinya. Dalam kekacauan itulah ia melihat harapan. Dan harapan itu, yang ditemukan secara tidak sengaja, telah menyelamatkan lebih banyak nyawa daripada semua peperangan yang pernah terjadi di abad ke-20.

St Mary's Hospital di London kini memiliki Alexander Fleming Laboratory Museum, tempat pengunjung dapat melihat reka ulang laboratorium asli Fleming—lengkap dengan cawan petri "berjamur" yang mengubah dunia. Dan jamur asli Penicillium notatum yang ia isolasi pada 1928 masih hidup, disimpan dengan hati-hati di koleksi jamur internasional, sebuah sisa hidup dari momen ketika kebetulan bertemu dengan pikiran yang siap.

#jaguar33 #jaguar33alternatif #jaguar33login #jaguar33daftar #beritaviral #viral #freebet #freechip #gacor #slotgacor #slotonline #beritaterkini #beritaterupdate #trending #beritatrending #ViralHariIni #TrendingNow #terpopuler #sejarah #warisanbudaya #Legenda #tokohdunia #penemu #ilmuwan #nobel

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama