LINTASWAKTU33, Jakarta – Pemandangan tak biasa terlihat di Diplomatic Quarter, Riyadh. Di kawasan tersebut, antrean panjang wisatawan asing tampak mengular di depan sebuah toko alkohol.
Fenomena itu dilaporkan terjadi sejak 21 Desember 2025 dan dengan cepat menjadi perbincangan publik internasional.
Menurut laporan The Independent, antrean tersebut diisi oleh warga asing non-Muslim yang memenuhi persyaratan tertentu, termasuk diplomat serta pemegang izin Premium Residency.
Mereka rela menunggu lama demi dapat membeli minuman beralkohol secara legal, sesuatu yang selama ini tidak pernah diizinkan secara terbuka di Arab Saudi.
Toko Alkohol Dibuka Terbatas Sejak 2024
Diketahui, toko alkohol tersebut pertama kali dibuka secara tertutup pada Januari 2024 dan berlokasi di kawasan diplomatik Riyadh.
Sejak awal, aksesnya memang dibatasi secara ketat. Namun, kabarnya dalam beberapa waktu terakhir, cakupan pembeli diperluas, sehingga jumlah pengunjung meningkat signifikan.
Para calon pembeli diwajibkan melewati prosedur ketat, mulai dari verifikasi identitas hingga pembatasan jumlah minuman yang boleh dibeli.
Tidak semua orang yang datang juga bisa langsung masuk ke dalam toko, karena petugas melakukan pemeriksaan berlapis.
Perubahan Sosial yang Menarik Perhatian Dunia
Antrean panjang untuk membeli alkohol ini menandai adanya pergeseran sosial yang cukup signifikan di Arab Saudi.
Selama bertahun-tahun, konsumsi alkohol dilarang sepenuhnya dan dapat berujung pada sanksi berat.
Kini, meskipun larangan tersebut tetap berlaku bagi umat Muslim dan masyarakat umum, keberadaan toko ini menciptakan dinamika baru di kalangan komunitas internasional.
Menariknya, toko tersebut tidak melakukan promosi terbuka dan tidak memasang papan iklan di area sekitar.
Harga Mahal Tak Surutkan Minat
Harga minuman yang dijual di toko tersebut disebut relatif mahal. Namun, hal itu tidak menyurutkan minat para pembeli.
Bagi sebagian orang, pengalaman bisa membeli alkohol secara legal di Arab Saudi, meski harus antre panjang, dianggap sebagai momen bersejarah.
Pemerintah Arab Saudi tetap menegaskan bahwa larangan alkohol bagi umat Muslim dan publik umum tidak berubah.
Negeri tersebut telah memegang aturan ketat terkait alkohol sejak larangan diberlakukan pada pertengahan abad ke-20.
Meski demikian, dalam beberapa tahun terakhir, Arab Saudi menjalankan berbagai reformasi di bawah program Vision 2030 yang dipimpin Putra Mahkota Mohammed bin Salman.
Reformasi itu mencakup pembukaan bioskop, izin mengemudi bagi perempuan, hingga penyelenggaraan festival besar. Namun, terkait alkohol, pemerintah tetap bersikap sangat hati-hati dan selektif.