Tandan sawit, campuran tebu, sekam padi jadi opsi bahan baku bioetanol

 

Kemenperin Pilih Bahan Baku Bioetanol Tanpa Ganggu Ketahanan Pangan

Kemenperin Pilih Bahan Baku Bioetanol Tanpa Ganggu Ketahanan Pangan

Terbit: 05 Desember 2025 | Waktu Baca: 2 menit | Penulis: @johan

Opsi Bahan Baku Bioetanol

LINTASWAKTU33 – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyampaikan bahwa tandan sawit, campuran tebu, dan sekam padi menjadi tiga opsi bahan baku bioetanol, dengan tetap memperhatikan program ketahanan pangan dalam negeri.

“Kami concern dengan ketahanan pangan, jadi sumber-sumber bioetanol itu kami pilih yang tidak berpotensi tubrukan kepentingan dengan ketahanan pangan.” – Apit Pria Nugraha, Kepala Pusat Industri Hijau (PIH) Kemenperin

Proses Pengolahan Tandan Sawit

Tandan sawit bisa menjadi bahan baku bioetanol melalui dua tahap proses. Kemenperin memanfaatkan limbah kelapa sawit, khususnya tandan kosong kelapa sawit (TKKS), melalui proses ekstraksi glukosa. Upaya ini dilakukan bekerja sama dengan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN).

Kolaborator lainnya termasuk PT Rekayasa Industri dan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang mendukung pengembangan teknologi energi terbarukan.

Nilai Keekonomian Bioetanol

Permasalahan utama pengolahan tandan sawit menjadi bioetanol adalah nilai keekonomiannya. Terdapat dua pilihan: mengirim tandan sawit ke central processing, atau mendekatkan tandan sawit ke pusat pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah.

“Kalau saya, mendingan deketin tandan sawitnya supaya nanti kalau sudah jadi bioetanol, nilai tambahnya lebih tinggi. Itu contoh opsinya.” – Apit

Opsi Lainnya: Tebu dan Sekam Padi

Selain tandan sawit, Kemenperin juga mempertimbangkan campuran tebu atau sekam padi sebagai bahan baku bioetanol. Semua opsi dipilih agar tidak bertentangan dengan ketahanan pangan.

Mandatori Bioetanol 10%

Kementerian ESDM memperkirakan program bioetanol 10 persen (E10) dapat diterapkan mulai 2028. Program ini bertujuan mengurangi impor bensin yang cukup tinggi, dimana pada 2024 Indonesia mengimpor 330 juta barel minyak.

Please Select Embedded Mode To Show The Comment System.*

Lebih baru Lebih lama