Terbit: 18 November 2025 • Waktu Baca: 2 menit • Penulis: @johan
BBKSDA Riau Pasang Kalung Pelacak GPS pada Gajah Sumatra untuk Minimalkan Konflik
Langkah Konservasi Berbasis Teknologi di Tesso Tenggara
LINTASWAKTU33—Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau mengambil langkah signifikan dalam upaya perlindungan satwa dengan memasang kalung pelacak GPS pada seekor gajah Sumatra betina dominan berusia 40 tahun di Tesso Tenggara, Kabupaten Pelalawan.
Inisiatif ini dirancang untuk memantau pergerakan kawanan dan menjadi sistem peringatan dini guna mengurangi potensi konflik antara gajah dan masyarakat yang tinggal di wilayah sekitar.
Operasi Kompleks dengan Kolaborasi Banyak Pihak
Pemasangan kalung GPS ini merupakan operasi teknis yang menantang dan melibatkan berbagai lembaga, termasuk bantuan dua gajah terlatih dari Pusat Pelatihan Gajah Minas.
Manfaat Langsung dari GPS Collar
Kepala BBKSDA Riau, Supartono, menyebutkan bahwa perangkat ini memungkinkan deteksi lebih cepat. Ia menyatakan, “Dengan kalung GPS ini, kami dapat mendeteksi pergerakan gajah lebih cepat, sehingga memungkinkan intervensi dini ketika potensi konflik muncul.”
Data yang dikumpulkan akan menjadi acuan dalam memperkuat strategi mitigasi serta penyusunan rencana konservasi jangka panjang bagi sekitar 30 gajah yang berada di wilayah tersebut.
Status Gajah Sumatra Masih Sangat Terancam
Gajah Sumatra tercatat dalam kategori sangat terancam punah. Populasinya diperkirakan hanya tinggal sekitar 1.100 individu di seluruh Sumatra. Ancaman utama yang mereka hadapi meliputi hilangnya habitat akibat konversi lahan serta perburuan gading.
Pemerintah dan lembaga konservasi terus memperkuat langkah-langkah perlindungan, termasuk validasi ulang data populasi dengan teknologi thermal geothermal.
Imbauan bagi Masyarakat Lokal
Supartono juga mengajak masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam upaya pelestarian, termasuk tidak menanam tanaman yang menarik gajah sepanjang jalur migrasi serta menghindari tindakan kekerasan terhadap satwa.
