Sen, 24 Nov 2025 01.00 WIB
Gianluigi Buffon kala berbicara dalam konferensi pers jelang laga Grup B Euro 2024 antara Italia vs Albania, di Iserlohn, Jerman, 12 Juni 2024 . (Photo by Alberto PIZZOLI / AFP)
LINTASWAKTU33 - Timnas Italia kembali menghadapi situasi genting. Azzurri kini terancam gagal ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun setelah turnamen edisi 2018 dan 2022, Untuk menjaga peluang lolos ke Piala Dunia 2026 di Amerika Utara, Timnas Italia wajib memenangi semifinal playoff melawan Irlandia Utara sebelum berhadapan dengan pemenang Wales atau Bosnia & Herzegovina di final. Skuad asuhan Gennaro Gattuso finis sebagai runner-up di belakang timnas Norwegia di fase grup Kualifikasi Piala Dunia Zona Eropa. Lebih parahnya, dua kekalahan telak 0-3 serta 1-4 dari Norwegia semakin menyoroti keterbatasan Italia.
Gianluigi Buffon, pemenang Piala Dunia 2006 yang kini menjadi petinggi di skuad Azzurri, menilai situasi ini merupakan konsekuensi dari serangkaian kesalahan masa lalu.
“Kami Terlalu Berpuas Diri”
Dalam wawancara bersama Gazzetta dello Sport, Buffon menyebut bahwa kemunduran sepak bola Italia bersumber dari keputusan yang tidak tepat sejak dua dekade lalu. “Hasil hari ini berakar dari 20 tahun lalu, ketika kami berpuas diri pada Buffon, Cannavaro, Totti,” ujarnya. "Kami pikir kejayaan itu akan bertahan selamanya, seolah diberkahi begitu saja." Buffon membandingkan kondisi sepak bola Italia dengan negara-negara lain.
Dalam wawancara bersama Gazzetta dello Sport, Buffon menyebut bahwa kemunduran sepak bola Italia bersumber dari keputusan yang tidak tepat sejak dua dekade lalu. “Hasil hari ini berakar dari 20 tahun lalu, ketika kami berpuas diri pada Buffon, Cannavaro, Totti,” ujarnya. "Kami pikir kejayaan itu akan bertahan selamanya, seolah diberkahi begitu saja." Buffon membandingkan kondisi sepak bola Italia dengan negara-negara lain.
“Perancis sudah berada di level elite selama tiga puluh tahun, Spanyol hampir dua puluh. Mereka hidup di masa kini sepenuhnya. Sementara kami masih dalam fase transisi dan belum tahu arah mana yang harus diambil,” katanya. Ia menilai bahwa pada masa itu Italia seharusnya sudah mulai memikirkan ulang model teknis dan taktis, namun kesempatan tersebut terlewat.
Fokus Pembinaan Usia Muda dan Stabilitas
Meski begitu, Buffon melihat tanda-tanda perubahan. Ia menyebut tim-tim usia muda Italia mulai mencatatkan hasil positif dan beberapa proyek pembinaan bergerak ke arah yang lebih baik.
Fokus Pembinaan Usia Muda dan Stabilitas
Meski begitu, Buffon melihat tanda-tanda perubahan. Ia menyebut tim-tim usia muda Italia mulai mencatatkan hasil positif dan beberapa proyek pembinaan bergerak ke arah yang lebih baik.
Namun ia menegaskan proses ini memerlukan waktu dan kesabaran. “Jika tren ini bisa dibalik, mungkin kami bukan generasi yang akan menikmati hasilnya,” ungkap Buffon. Ia menyoroti bahwa perubahan jangka panjang sering kali tidak populer secara politik karena tidak memberikan hasil instan.
Buffon menegaskan pentingnya memulai pembinaan sejak usia 7 hingga 13 tahun, periode yang ia anggap paling menentukan dalam pembentukan bakat. “Dari usia 15 tahun ke atas pemain masih bisa berkembang, tetapi fondasi terbentuk sebelumnya,” katanya di portal QQFULLBET.
Ia mengungkapkan bahwa dirinya dan Cesare Prandelli sedang mendiskusikan cara mengorganisasi program pembinaan tersebut, menunggu hasil playoff sebelum memfinalisasi rencana. Menurut Buffon, proyek semacam ini hanya bisa berhasil bila ada stabilitas jangka panjang. Tanpa itu, Italia—pemenang Piala Dunia empat kali—berisiko kembali mengalami kekecewaan besar di pentas internasional.